Skip to main content

Posts

Dimabuk Syair Romansa Ismail!

Basi sekali rasanya kalau-kalau aku perlu mengenalkan siapa dia di sini. Namanya telah tersohor di sana di sini, dalam negeri, luar negeri, di seluruh dunia! Setidak tahu-tidak tahunya orang akan siapa dia, sesedikitnya pernah lah orang itu dengar nama dia. Ismail Marzuki, komponis legendaris Indonesia. (Sumber: CNN Indonesia) Kenapa bisa kubilang sesedikitnya orang pasti pernah dengar namanya, sebab namanya diabadikan jadi tempat pusat kesenian di Jakarta; UPPK Taman Ismail Marzuki, atau sering juga dikenalnya dengan TIM. Kalau masih bingung biar kuberi tahu salah satunya: itu, tempatmu pergi melihat diorama-diorama galaksi dan seisinya di Planetarium, letaknya ada di Taman Ismail Marzuki. Tapi, sebetulnya bukan itu yang jadi pokok tulisanku di sini. Aku mau menuliskan bahwa akhir-akhir ini aku benar-benar merasa sedang dimabuk syair-syair romansanya Ismail Marzuki! Bah! Sungguh, kalau aku punya kesempatan untuk time traveling  dan bertemu serta menghabiskan sehari d
Recent posts
August 23rd, 2019 10:17 PM It's funny, yet an irony how we often forget that letting go is also a part of life, a part of growing up. Letting go of everything:      Maybe letting go of someone,      Or letting go of memories,      Letting go of our favorite things,      Letting go of our dreams. And it is never an easy one to do — letting go of things. It's emotional, and even sometimes might feel like there's a part of us that go along with it, a part of us that leaving us. But, that is life. We've gotta learn  to be able to endure and  sincere. For the fact, the cycle of life is unwittingly also about letting go:      One person died, another one has born. And after all, all we have to do is to learn to stand up again after all those things we have to let go of has finally gone. But we've gotta know that there's always gonna be another things that would replace what's already gone:      There's always gonna be someone new,    

Mengalun, lalu membawa.

Tiap-tiap tempat yang dikunjungi manusia, beserta perintilannya — besar, sedang, atau kecil; yang nyata dengan indera lihat, dengar, atau rasa — seringkali mampu membawa manusia kembali pada kenangan dan cerita. ----- Yogyakarta yang kemarin kutandangi terasa lebih hangat; persetan sedang musim apa saat itu. Ketimbang indera pengelihatan, melalui indera dengarku kali ini dia mencoba meninggalkan kenangan. Berbahagialah wargamu atas kotanya yang selalu terasa begitu dekat dan akrab bagi tiap orang, sampai-sampai semua orang punya versi Yogyakartanya masing-masing; dari andong Malioboro hingga Adhitia Sofyan. “Untuk apa sebenarnya membagi-bagimu, toh kau tetap saja Yogyakarta”, pikirku. Tapi semenjak tandangan kemarin itu, sudah kuputuskan bagaimana kota ini versiku: angkringan Nat King Cole dan gudeg Katon Bagaskara. Pada malam pertama kami sampai di kota ini dengan keadaan luar biasa lapar, sehingga hal pertama yang dilakukan adalah: makan. Benar, gudeg. Sembari men